MANUAL SERVIS UNTUK SISTEM PENDIDIKAN YANG MACET
MANUAL SERVIS UNTUK SISTEM PENDIDIKAN YANG MACET
Hadirin sekalian,
Tulisan ini bukan laporan kemajuan,
melainkan lembar diagnosa kerusakan
atas sebuah sistem bernama pendidikan.
1. Bengkel yang Dilarang Membuka Baut
Pada masanya, sekolah bekerja seperti ruang perakitan.
Ada komponen yang aus,
ada roda gigi yang tidak sejajar,
ada poros yang perlu dikencangkan ulang.
Guru berperan sebagai teknisi.
Ia mendengar bunyi mesin,
mencium aroma oli terbakar,
dan tahu: jika tidak dibongkar sekarang,
kerusakan akan merambat ke seluruh sistem.
Kini, bengkel itu disegel.
Mesin diwajibkan tetap menyala,
namun setiap obeng dianggap ancaman.
Jika terdengar suara berdecit,
kami diminta menaikkan volume musik motivasi.
Jika roda macet,
kami disuruh menempelkan stiker “proses pembelajaran”.
Mesin rusak tidak boleh dihentikan.
Tidak boleh dibuka.
Tidak boleh disentuh.
Yang penting, panel laporan tampak normal.
2. Rumah Sakit Tanpa Tindakan
Di sisi lain, kami juga diposisikan sebagai tenaga medis.
Kami diminta menjaga “kesehatan karakter”.
Namun ruang operasi dikunci rapat.
Diagnosis boleh.
Catatan medis wajib.
Tindakan? Dilarang.
Setiap gejala penyimpangan dianggap alergi ringan.
Setiap kebiasaan buruk diperlakukan sebagai flu musiman.
Setiap kedisiplinan disebut efek samping berbahaya.
Pisau bedah diganti brosur.
Resep diganti slogan.
Dan ketika kondisi memburuk,
dokterlah yang dituding lalai.
Pasien tidak pernah salah.
Penyakit tidak boleh dinamai.
Yang salah hanyalah prosedur yang berani bertindak.
3. Rangkaian Elektronik yang Tak Boleh Dikalibrasi
Lebih ironis lagi, sistem ini bekerja seperti perangkat elektronik sensitif.
Setiap siswa diperlakukan sebagai papan sirkuit rapuh.
Sedikit tegangan disebut korsleting.
Sedikit tekanan disebut kerusakan permanen.
Padahal semua teknisi tahu:
rangkaian tanpa kalibrasi
akan menghasilkan output kacau.
Kami tahu voltase karakter perlu diatur.
Kami tahu arus perilaku harus dibatasi.
Namun setiap kali hendak menyetel potensiometer,
alarm perlindungan berbunyi.
“Jangan disentuh!”
“Garansi bisa hangus!”
Akhirnya, sistem dibiarkan bekerja
dengan sinyal liar,
frekuensi tak stabil,
dan output yang tak bisa diprediksi.
4. Protokol Aman yang Mematikan Fungsi
Dalam dunia mesin, ini disebut overprotection.
Dalam medis, ini malpraktik karena pembiaran.
Dalam elektronika, ini sistem yang mati demi keamanan semu.
Dalam pendidikan,
ini disebut kebijakan.
Guru dikondisikan untuk tidak memperbaiki,
tidak mengoreksi,
tidak mengintervensi.
Cukup dokumentasikan.
Cukup laporkan.
Cukup pastikan tidak ada percikan konflik.
Sistem berjalan,
namun fungsinya telah dicabut.
Penutup: Sistem Siap Digunakan (Dengan Risiko Sendiri)
Silakan lanjutkan penggunaan sistem ini.
Manual sudah dicetak.
Protokol sudah disahkan.
Tanggung jawab sudah dialihkan.
Namun satu hal tak bisa dihapus:
mesin yang tak pernah diservis akan jebol.
pasien yang tak pernah ditangani akan kolaps.
rangkaian yang tak pernah dikalibrasi akan gagal total.
Dan ketika itu terjadi,
jangan salahkan teknisinya.
Jangan tuntut dokternya.
Jangan cari insinyurnya.
Kami sudah lama dipaksa
menjadi operator pasif dari sistem yang rusak,
menekan tombol “lanjutkan”
pada peringatan yang sejak awal berbunyi:
ERROR: PENDIDIKAN TIDAK DITEMUKAN.

Komentar
Posting Komentar